Pati Siaga Kusta! 11 Kasus Baru Muncul di Awal 2026, 5 Pasien Alami Cacat Permanen

Table of Contents
Yati, Ketua Tim Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Pati

Moeria - PATI – Ancaman penyakit kusta kembali menghantui warga Kabupaten Pati. Belum genap satu semester di tahun 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati melaporkan temuan mengejutkan sebanyak 11 kasus baru kusta. Angka ini memicu alarm kewaspadaan tinggi mengingat tren penyebaran yang terus membayangi wilayah Bumi Mina Tani.

Lonjakan ini menambah daftar panjang kasus setelah pada tahun 2025 lalu tercatat sebanyak 37 kasus tersebar di hampir seluruh kecamatan. Yang memprihatinkan, keterlambatan deteksi dini telah memicu dampak fatal bagi para penderita.

Kecamatan Kayen Jadi Sorotan Utama

Ketua Tim Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Pati, Yanti, mengungkapkan bahwa sebaran kasus ini merata, namun di wilayah tertentu menunjukkan konsentrasi yang lebih tinggi.

"Tahun 2025 ada 37 kasus, terbanyak di Kecamatan Kayen dengan 6 kasus. Dari total itu, 5 pasien sudah mengalami kecacatan fisik karena terlambat ditangani," tegas Yanti.

Waspada 'Panu Palsu' yang Mematikan Saraf

Pihak Dinkes mengingatkan warga untuk tidak meremehkan bercak putih pada kulit. Banyak warga terkecoh menganggapnya sebagai panu biasa, padahal itu adalah tanda serangan bakteri Mycobacterium leprae penyebab penyakit kusta.

Ciri Khusus yang Harus Diwaspadai:

Mati Rasa (Anestesi): Muncul bercak putih atau kemerahan yang jika dicubit atau ditusuk tidak terasa sakit. Beda dengan Panu: Jika panu terasa gatal, kusta justru kehilangan sensasi rasa sama sekali.

Risiko Luka Tanpa Sadar: Karena mati rasa, penderita seringkali tidak sadar saat menginjak benda tajam atau terkena panas, yang berujung pada infeksi parah hingga pembusukan jaringan.

Segera Periksa ke Puskesmas!

Dinkes menghimbau masyarakat yang menemukan gejala bercak mati rasa untuk segera melakukan pemeriksaan. Kusta bukan penyakit kutukan dan bisa disembuhkan total secara gratis di Puskesmas melalui pengobatan MDT (Multi Drug Therapy).

"Jangan tunggu sampai jari kaku atau timbul luka borok. Jika ditemukan sejak dini, kecacatan permanen bisa dicegah sepenuhnya," pungkas Yanti. (yon80)

Post a Comment